Ibu

Sep 7th, 2006 | By cece | Category: Oase

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu
ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah”

Selalu saja ada atmosfir beda yang membuat haru setiap mendengar lagu ini. Lagu yang selalu berhasil membuat hati ini terkoyak setiap mendengar dan meresapi bait-bait liriknya. Kadang membuat hidung ini kembang kempis menahan haru, lalu air mata diam-diam dengan malu, menuruni pipi ini. Kadang membuat ingin menelpon ibu di rumah atau segera mendekap ibu tersayang, lalu menangis sejadi-jadinya di pangkuannya. Demi Allah, aku tak pernah bisa membalas jasa-jasanya, oh Ibu sayang.

Masih teringat dan dan tak pernah lekang kepingan memori mengingat waktu itu. Dua puluh tahun lalu.

“A, sudah tidur sana, nanti sekolahnya kesiangan” ujar Ibu yang masih mengupas kulit ubi untuk digoreng dengan tepung. Aku yang terbangun karena ingin pergi ke kamar kecil akhirnya menuruti permintaan Ibu karena mata ini memang masih mengantuk. Kadang kala aku tertidur di tikar yang terhampar di dapur sambil memperhatikan kedua orangtuaku sibuk memasak.

Ibu yang tegar dan ikhlas membantu Bapak demi perekonomian keluarga dengan menjual gorengan selalu membuat aku kagum dan haru. Bapak yang bekerja di sebuah pabrik kawat di bilangan Tangerang, di pinggir jalan Daan Mogot selalu menyempatkan mengajari kami baca tulis dan menghitung. Ah, walau kadang kala Bapak mengajar dengan keras tapi hasilnya sudah sepantasnya aku banyak berterimakasih kepadanya. Ketika ucapan Bapak sudah keras karena aku tampak lamban berpikir, biasanya Ibu “menyelamatkan” dengan mengajakku belanja ke warung Mpok Wati. Sungguh paduan sempurna kasih sayang mereka.

Bapak kulihat masih menggoreng beberapa ubi dan pisang di penggorengan dengan minyak panas di atas kompor minyak tanah merek Butterfly untuk dijual esok hari. Hawa dapur di sepertiga malam terakhir ini menjadi hangat. Rumah kontrakan yang masih berdinding bilik bambu menjadi saksi bisu perjuangan orangtuaku. Pagi hari biasanya Ibu menjual dengan menitipkan ke warung Mpok Wati di depan musholla di kampung kami.

Siang hari setelah pulang dari sekolah, biasanya aku menjadi agen pengintai penjualan gorengan Ibu di warung sambil bermain di depan musholla. Kalau banyak yang terjual langsung meluncur kalimat hamdalah berkali-kali dari bibir ini dan senyum-senyum sendiri sambil tetap bermain. Kalau sisa gorengan masih banyak aku masih yakin bahwa masih ada sore dan malam hari. “Semoga banyak yang laku terjual,” doaku diam-diam dalam hati.

“A, tolong lihat sisa gorengan di warung si Mpok,” pinta Ibu di setiap petang selepas aku mengaji atau shalat isya di musholla

Segera aku berlari ke warung dan mengintai sisa gorengan di warung. Satu, dua, tiga, kuhitung dengan hati-hati tanpa sepengetahuan Mpok Wati atau keluarganya, biasanya aku juga mengendap-endap juga supaya tidak ketahuan. Kalau tersisa sedikit, aku segera berlari pulang ke rumah sambil tersenyum memberitahukan kepada Ibu. Jika masih sisa banyak, kadang dengan wajah murung aku melapor ke Ibu. Biasanya Ibu langsung menghiburku, “Gapapa, kan masih ada besok. Rezeki Allah masih banyak A,”

“seperti udara kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, ibu….”
“ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu, sampai aku tertidur, bagai masa waktu kecil dulu”
“lalu doa-doa baluri seluruh tubuhku, dengan apa kumembalas, Ibu..”

Leave Comment